Pernah terbangun dari istirahat setelah mendengar pengeras suara masjid berkumandang dengan nyaringnya di luar waktu shalat???
Pernah denger kalimat ini, “Mari teman-teman kita mengaji di Masjid XXX… karena sudah ditunggu Ustad dan Ustadzah nya…. njangan lupa mbawa alat tulis dan buku catatan… cepet ndatang yo!” (kadang kala seruan cepet ndatang yo diucapkan berjamah bersama teman-teman lainnya di pengeras suara).
Saya gak habis pikir, mengapa harus dipanggil setiap harinya dengan kalimat yang sama pula. Saya curiga jangan-jangan sudah ada naskah yang tertempel di dinding dekat pengeras suara? Atau jangan-jangan mereka sudah Qhatam (hapal) dengan naskah tersebut? Atau ada piket untuk menyerukan panggilan tersebut? Atau malah itu syarat untuk Munaqosyah (lulus)?
Sedikit bercerita, saya begini-begini, walaupun tidak berafiliasi dengan partai berhaluan agama, komunitas Jemaah Muslim, berpakaian gaya Isbal (celana panjang menggantung kadang kala berkaos kaki panjang), pernah mengikuti Ujian Munaqosyah Nasional, Musabaqah Tilawatil Quran, serta Pekan Anak Saleh Indonesia. Dulu waktu saya masih SD, saya pernah menghabiskan masa kecil bersama teman-teman di Taman Pendidikan Al Quran (TPA) sampai tingkatan Ta’limul Quran lil Aulad (TQA). Menjelang persiapan EBTANAS SD, saya pun memutuskan untuk berhenti mengaji di TQA karena tidak bisa mengimbangi materi tafsir dengan kapasitas umur saya waktu itu. Setelah itu saya lupa pernah menghabiskan masa kecil di TPA/TQA.
Dan sekarang saya ingat masa-masa itu…
“TK/TPA/TQA Jamiatul Khoir Unit 048, Masjid Jami Kp. Bali Komperta Sungai Gerong”
Yah, itu nama TQA saya dulu. Saya ingat persis karena tulisan di atas sering menjadi identitas ketika saya menjadi delegasi santriwan (harus pake -wan karena ada perbedaan yang jelas antara -wan dan -wati di tempat mengaji saya) dalam cabang lomba nasyid, tartil, saritilawah, dan kaligrafi.
Balik lagi ke lantunan “Mari teman-teman kita mengaji di Masjid XXX… karena sudah ditunggu Ustad dan Ustadzah nya…. njangan lupa mbawa alat tulis dan buku catatan… cepet ndatang yo!”
Seingat saya, tidak pernah ada lantunan seperti itu di TK/TPA/TQA saya dulu. Dengan niat yang tulus dan ikhlas tanpa dipaksa orang tuapun saya tahu diri untuk datang ke TK/TPA/TQA sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Nah mengapa di Jogja mesti diingatkan setiap harinya??? Pake pengeras suara sekenceng-kencengnya lagi?????
Mungkin bagi para teman-teman semua hal ini bukan merupakan hal penting, tapi menurut saya ini menyangkut hajat istirahat saya. Bisa bayangin gak berada di kosan yang berada dan dikelilingi oleh banyak masjid dan mushalla di sekitar kosan kalian. Terus sekitar jam 4an, Masjid A, melantunkan “syair” di atas, terus disusul sama Masjid B, terus Masjid C, D, E dan seterusnya. Udah kuliah full di kampus seharian. Giliran sampe di kos dan mau memejamkan mata tiba-tiba….. “Mari teman-teman kita mengaji di Masjid XXX… karena sudah ditunggu Ustad dan Ustadzah nya…. njangan lupa mbawa alat tulis dan buku catatan… cepet ndatang yo!”
Waduh-waduh, ibu-ibu bapak-bapak, mbo yo anaknya diingetin supaya mengaji yang rajin, diingetin tiap jam 4 datang ke TK/TPA, diingetin bawa alat tulis. Jangan lupa yo!!!
