possibilty versus reality

(Jangan Kira Aku) Santri Panggilan!!!

December 11, 2008 · 15 Comments

Pernah terbangun dari istirahat setelah mendengar pengeras suara masjid berkumandang dengan nyaringnya di luar waktu shalat???

Pernah denger kalimat ini, “Mari teman-teman kita mengaji di Masjid XXX…  karena sudah ditunggu Ustad dan Ustadzah nya…. njangan lupa mbawa alat tulis dan buku catatan… cepet ndatang yo!” (kadang kala seruan cepet ndatang yo diucapkan berjamah bersama teman-teman lainnya di pengeras suara).

Saya gak habis pikir, mengapa harus dipanggil setiap harinya dengan kalimat yang sama pula. Saya curiga jangan-jangan sudah ada naskah yang tertempel di dinding dekat pengeras suara? Atau jangan-jangan mereka sudah Qhatam (hapal) dengan naskah tersebut?  Atau ada piket untuk menyerukan panggilan tersebut? Atau malah itu syarat untuk Munaqosyah (lulus)?

Sedikit bercerita, saya begini-begini, walaupun tidak berafiliasi dengan partai berhaluan agama, komunitas Jemaah Muslim, berpakaian gaya Isbal (celana panjang menggantung kadang kala berkaos kaki panjang), pernah mengikuti Ujian Munaqosyah Nasional, Musabaqah Tilawatil Quran, serta Pekan Anak Saleh Indonesia. Dulu waktu saya masih SD, saya pernah menghabiskan masa kecil bersama teman-teman di Taman Pendidikan Al Quran (TPA) sampai tingkatan Ta’limul Quran lil Aulad (TQA). Menjelang persiapan EBTANAS SD, saya pun memutuskan untuk berhenti mengaji di TQA karena tidak bisa mengimbangi materi tafsir dengan kapasitas umur saya waktu itu. Setelah itu saya lupa pernah menghabiskan masa kecil di TPA/TQA. 

Dan sekarang saya ingat masa-masa itu…

“TK/TPA/TQA Jamiatul Khoir Unit 048, Masjid Jami Kp. Bali Komperta Sungai Gerong”

Yah, itu nama TQA saya dulu. Saya ingat persis karena tulisan di atas sering menjadi identitas ketika saya menjadi delegasi santriwan (harus pake -wan karena ada perbedaan yang jelas antara -wan dan -wati di tempat mengaji saya) dalam cabang lomba nasyid, tartil, saritilawah, dan kaligrafi.

Balik lagi ke lantunan “Mari teman-teman kita mengaji di Masjid XXX…  karena sudah ditunggu Ustad dan Ustadzah nya…. njangan lupa mbawa alat tulis dan buku catatan… cepet ndatang yo!”

Seingat saya, tidak pernah ada lantunan seperti itu di TK/TPA/TQA saya dulu. Dengan niat yang tulus dan ikhlas tanpa dipaksa orang tuapun saya tahu diri untuk datang ke TK/TPA/TQA sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Nah mengapa di Jogja mesti diingatkan setiap harinya??? Pake pengeras suara sekenceng-kencengnya lagi?????

Mungkin bagi para teman-teman semua hal ini bukan merupakan hal penting, tapi menurut saya ini menyangkut hajat istirahat saya. Bisa bayangin gak berada di kosan yang berada dan dikelilingi oleh banyak masjid dan mushalla di sekitar kosan kalian. Terus sekitar jam 4an, Masjid A, melantunkan “syair” di atas, terus disusul sama Masjid B, terus Masjid C, D, E dan seterusnya. Udah kuliah full di kampus seharian. Giliran sampe di kos dan mau memejamkan mata tiba-tiba….. “Mari teman-teman kita mengaji di Masjid XXX…  karena sudah ditunggu Ustad dan Ustadzah nya…. njangan lupa mbawa alat tulis dan buku catatan… cepet ndatang yo!”

Waduh-waduh, ibu-ibu bapak-bapak, mbo yo anaknya diingetin supaya mengaji yang rajin, diingetin tiap jam 4 datang ke TK/TPA, diingetin bawa alat tulis. Jangan lupa yo!!!

→ 15 CommentsCategories: Uncategorized

Pulau Peristirahatan

November 21, 2008 · 5 Comments

Akhirnya bertemu lagi dengan hari Jumat. Itu berarti hari dimana saya harus menghabiskan waktu untuk membaca NL yang jumlahnya 70-90an lembar… membaca ebook terbaru… mengerjakan critical review THI yang sangat menguras pikiran… dan siap-siap pergi berlibur ke sebuah pulau yang sangat terpencil.

Sabtu dan Minggu memang hari yang tepat untuk berlibur setelah lima hari lima malam berkutat dengan yang namanya urusan kuliah. Mulai dari bangun pagi tanpa sarapan, kuliah berat tanpa mendapatkan pencerahan berarti, ngerjain quiz dan paper laknat, makan siang di kantin yang mahal, bertemu sama teman-teman dan teman-teman imajiner mereka, kuliah malam yang mampu membuktikan bahwa Indonesia memang benar-benar negara dunia ketiga, makan malam sampai kenyang, ngerjain paper dan tugas laknat lagi, buka laptop dan online sampai tertidur, dan berkelana di dunia mimpi. Arggggghhhh….. saya memang butuh liburan!

Untung saya tahu ada satu pulau yang cocok untuk beristirahat tanpa ada gangguan siapa pun. Pulau dimana saya bisa bermain di pantai yang berpasir putih, berselancar di laut biru, dan memakan masakan seafood yang sangat lezat itu. Pulau dimana saya bisa berimajinasi dan menjauhkan saya dari orang orang aneh. Pulau dimana saya bisa melakukan apapun yang saya suka. Pulau dimana saya dikelilingi oleh semua benda dan orang-orang yang saya inginkan dan saya butuhkan. Pulau yang sangat indah.

Pulau itu tidak begitu besar tidak pula begitu kecil. Pulau itu dekat tidak pula jauh. Pulau itu sangat mudah untuk dikunjungi dan murah. Namun kadangkala sulit dikunjungi dan mahal harganya apabila tugas tugas di kampus sedang menumpuk. Kapan pun tanpa harus menunggu Sabtu dan Minggu, saya sebenarnya mampu berkunjung ke pulau itu. Tapi Sabtu dan Minggu memang beda. Memang hari yang tepat untuk beristirahat.

Pulau kapuk…. saya merindukanmu. Dengan iringan bantal, guling, dan selimut… mari temani saya berkelana di alam mimpi. Selamat berhibernasi!!!

→ 5 CommentsCategories: Uncategorized

Pilih jongkok atau duduk?

October 26, 2008 · 10 Comments

Please let me know…

Salah satu kemampuan manusia paling alami di pagi hari adalah “membelah diri.” Belahannya bisa berupa satuan apapun baik itu padat maupun cair. Kalo satuannya padat, berarti anda dalam keadaan sehat. Kalo cair, hati-hati, mungkin anda semalam sangat menikmati sate yang dilumuri dengan saus kacang, dan itu berarti pencernaan anda sedang dalam masa-masa kritis. Hal yang alami memang!

Untuk melakukannya, saya pun seringkali mengeluarkan energi yang sangat banyak, mungkin setara dengan lari keliling lapangan GSP sebanyak lima putaran. Mulai dari perasaan “ingin” membelah diri yang ditahan-tahan, kemudian lari turun tangga untuk mencapai pos pembelahan, sampai proses pengencangan dan pengenduran otot di saat membelah diri. Proses ini pun memberikan kenikmatan lain yang tidak diberikan oleh jenis olahraga manapun. Yaitu, mengeram! Arghhhhhhhhhhhh…. Ehmmmmmmmmmmmm… uhhh…(lalu terdengar bunyi *Plung). Yah mungkin atlit angkat besi juga mengeram ketika mengangkat beban, tapi ini beda.

Namun, kadang kala membelah diri itu menjadi proses yang sangat sakit. Yah, kalau yang dibelah itu terlalu banyak, terlalu besar untuk dipecah menjadi satuan yang lebih kecil, atau terlalu lama menghabiskan waktu dalam posisi jongkok.

Jongkok!

Memang posisi yang tidak mudah, apalagi anda mesti melakukan proses pembelahan diri. Beruntung ada bak berisi air yang pinggirannya bisa digunakan sebagai pegangan dikala pembelahan diri sedang dalam proses yang paling puncak. Bayangkan, ketika anda sedang mengeram, dalam posisi jongkok, tidak ada benda besar di samping kanan kiri seperti bak. Saya pikir anda maupun saya akan terpeleset ataupun tidak dalam posisi yang aman untuk membelah diri. Makanya saya kemudian berfikir selain untuk menampung air bak juga memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pegangan.

Namun berbeda dengan preferensi membelah diri dalam posisi duduk. Walaupun kenikmatan yang diperoleh tidak sebanyak ketika dalam posisi jongkok, posisi duduk lebih menawarkan fasilitas yang lebih aman. Tidak perlu takut untuk terpeleset. Ketika memilih posisi ini bisa saja saya mendapatkan nilai tambah yang tidak dapat diperoleh dalam posisi jongkok, yaitu sembari membelah diri, juga bisa menghabiskan waktu yang agak lama untuk membaca koran, buku, atau malah wifi an (membelah dirinya di MM UGM). Belum lagi beberapa tempat (seperti MM UGM) menyediakan tambahan kipas angin bahkan aircon untuk para pembelah diri. Benar-benar nyaman untuk membelah diri!

→ 10 CommentsCategories: Campus

Sakit Kepala Itu!

October 25, 2008 · 1 Comment

Consider this…

Aku adalah pakaian. Terserah kalian mau membayangkan aku sebagai celana dalam, beha, kutang, dsb. Aku direndam ke dalam air dengan sangat lama. Saking lamanya, penampilanku menjadi berkeriput layaknya seorang nenek janda atau kakek duda yang ditinggalkan bukan oleh sanak keluarga, melainkan kuman-kuman dan noda yang melekat di tubuhku. Karena kondisi fisik yang sudah tidak segagah ketika masih dibungkus dalam plastik di toko-toko pakaian bermerk, aku sekarang sering dimanjakan, dimandikan oleh tangan-tangan jelita dengan sabun, yang paling harum pula.

Namun aku sering ditinggalkan sendirian untuk beberapa saat. Lalu kemudian dimandikan lagi dengan sangat lembut. Walaupun nikmat, aku sering mengalami sakit kepala yang sangat dahsyat ketika kedua tangan dan jari jemarinya meremas-remas tubuh renta ini. Aku bingung dengan apa yang dilakukannya. Mungkin ia tidak rela dengan kuman, noda, dan penyakit yang menggerogoti tubuhku ini. Badanku kemudian diremas-remas kembali, dikeringkan, dan diperas sampai air di tubuhku mengering. Sakit sekali kepala ini.

Parahnya, di saat sakit di kepala ini masih bergejolak untuk resisten terhadap segala macam serangan, tubuhku kemudian ditinggalkan di lapangan terbuka, digantung di seutas kawat, dibiarkan tanpa atap untuk berteduh, tergolek lemas dan kaku. Akupun menangis…menahan sakit…tetesan air pun mengalir ke semua tubuhku. Tenggorokanku kering. Kerontang.

Beruntung hujan datang dan memberiku kehidupan. Namun dia berkunjung terlalu cepat. Aku kembali sendiri. Namun kepalaku masih terasa sakit.

Kemudian mentari datang menyapaku. Dia itu sudah tua. Tetapi mengapa cahayanya masih seterang seperti pertama kali aku melihatnya. Aku selalu memintanya untuk menggunakan selimut berbahan satin agar ia tidak kepanasan, tapi ia menolak, karena ia dilahirkan memang dalam keadaan telanjang. Kemudian aku memohon agar dia untuk saat ini saja menjauh dariku, tapi ia kembali menolak, karena memang tugasnya untuk menerangi bumi. Sakit kepalaku menjadi-jadi.

Lalu aku berdoa agar tangan-tangan jelita itu menjemputku dari tempat ini. Tempat ini terlalu panas untuk orang seumurku. Aku menunggu… Tapi ternyata aku tidak dijemput-jemput. Tampaknya aku dilupakan. Apa karena mereka lupa akan keberadaanku. Apa mereka sangat sibuk berada di kampus sehingga lupa untuk menjemputku.

Kemudian bulan datang menyapaku. “Wahai pakaian, mengapa kamu masih tergantung di tiang dan kawat itu? Tidakkah kau letih? Mari aku temani kamu sampai mentari datang. Tidur yang nyenyak ya.”

Mentari pun menyapa…. dan aku masih tergantung di kawat ini…

Entah bertapa lama aku berada di tempat ini, namun ketika siang hari aku merasakan sakit yang sangat di kepala. Hujan pun datang sesukanya. Kadang datang…kadang menghilang… Kadang ia datang untuk menyegarkan tubuhku, namun kadang pula ia membuat kepalaku sakit sampai ke ubun-ubun.

 Hari demi hari pun silih berganti. Dengan sambutan mentari… hujan… dan bulan….

Dan sakit kepalaku semakin menjadi-jadi.

→ 1 CommentCategories: Uncategorized

Bias

October 24, 2008 · 8 Comments

Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, saya dapat dengan mudah membedakan mana sesuatu yang dianggap sebagai “internasional”, “nasional”, maupun “lokal”. Namun berbeda dengan apa yang saya alami tadi pagi.

“Seminar Nasional” yang saya ikuti tadi, cukup membiaskan kemampuan saya dalam mengidentifikasi dimana letak “nasional” nya. Empat pembicara, semuanya dari Jogja. 300 peserta, semuanya juga dari Jogja. Saya jadi bertanya-tanya apakah ada kekeliruan dari penyelenggara, atau kesengajaan untuk “menjual” sebuah kegiatan? Atau jangan-jangan, Yogyakarta sekarang telah menjadi negara berdaulat yang terpisah dari RI???

Kemudian, saya dan teman-teman yang hadir di seminar itu kembali bertanya, “Eh, Menguak itu apa sih artinya?”, ” Kata dasarnya itu kuak ya?”. Yah, seminar yang kami ikuti memang bertajuk Menguak Krisis Finansial Global: Sebuah Pendekatan Ekonomi Politik, dan tidak ada satupun dari kami yang bisa mengartikan secara harafiah apa itu menguak. Akhirnya kami tahu definisi menguak setelah salah satu pihak yang berwenang memberi kata sambutan.

 “Menguak, apa itu menguak? Menguak itu adalah menguliti atau mengupas suatu permasalahan, namun tidak memberikan solusi atas permasalahan tersebut.”

Terima kasih atas informasi nya Pak. Kami mendapat ilmu baru, yaitu definisi menguak!

Namun, apa yang dikatakan beliau kembali menjadi bias ketika beberapa pembicara menjelaskan makalah dengan memberikan solusi dari permasalahan. Pembicara pertama menjelaskan tentang Subprime Mortgage tanpa ada solusi, bagus, berarti sejalan dengan judul seminar. Tapi kami masih belum puas dengan apa yang disampaikannya karena arah pembicaraannya terlalu ekonomi dan mendasar. Yah, kami maklumi karena beliau memiliki waktu yang sangat terbatas karena acara molor satu jam lamanya sehingga beliau berbicara hal-hal pokoknya saja. Kemudian, pembicara kedua, secara tidak diharapkan berbicara tentang sektor riil, UKM, turisme, dan kegiatan ekspor impor Indonesia. Beliau juga memberi solusi dengan menyodorkan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan pemerintah. Pembicara ketiga, lumayanlah, berbicara banyak tentang (lagi!) subprime mortgage dan memberikan solusi. Pembicara keempat, (lagi!) berbicara tentang kegiatan ekspor impor.

Waduh-waduh, ini kok pembahasan seminar ama judul gak kompak ya! Teman saya, Kiki Lumaela, kembali bertanya, “Dek, ini seminar menguak atau seminar menguap sih?”. Hahahaha… Karena apa yang kami dengarkan sedikit keluar dari apa yang kami harapkan, akhirnya kami memiliki preferensi yang bermacam-macam, mulai dari menguap alias tidur, bertukar informasi alias gosip, sampai walk out alias cari makan di luar.

Yang alasannya walk out mungkin sangat appropriate, daripada kena maag atau mati kelaparan, yah mending cari makan di luar. Kering! Gak dapet minum, apalagi makanan, padahal temanya “Seminar Nasional”. Beberapa teman saya, selama seminar berlangsung meng-sms saya meminta air minum. Yah, saya memang biasa membawa air minum di tas sebagai persediaan di kala rongga tenggorokan diterpa kekeringan yang sangat dahsyat. Sumpah kami benar-benar kehausan. Akhirnya saya pun berbagi air dengan beberapa teman saya. Wulan, yang datangnya telat dan meminta persediaan air saya, sms seperti ini, “Dek, bawa minum gak? Aq 4 baris d blgkmu…haghag, haus bgt ni ^^, gak ada coffe break po?” Yampun…Wulan…boro-boro coffe break, snack aja gak dapet. Terus dia kembali sms, “hehehe, aq td pas registrasi jg nunggu kotak snack je, tp kok g dikasi2…malah tak kira dpt makan siang.”

Ya begitulah….

Mohon maaf kepada semua pihak yang merasa eksis di post ini, saya sebenarnya tidak akan sebaik ini memberikan feedback mengingat tujuan utama saya mengikuti seminar hanyalah untuk mendapatkan “pencerahan”, suatu perspektif baru tentang krisis finansial global berdasarkan pandangan ekonomi (dan WAW… sangat sedikit politiknya). Ekspektasi yang saya harapkan ternyata lebih tinggi daripada hasil yang saya dapatkan. Saya tidak sepenuhnya menginginkan sebuah sertifikat tertanda bahwa saya “hadir” atau “menonton” sebuah seminar, saya ingin lebih dari itu. Namun yah akhirnya saya tetap mendapatkan sertifikat “kehadiran”.

→ 8 CommentsCategories: Campus

I Am Not!!!

September 8, 2008 · 4 Comments

I am not!

I am not!

May Not!

→ 4 CommentsCategories: Uncategorized

Menunggu Matahari

August 19, 2008 · 2 Comments

Di mana kau? Kenapa kau belum membangunkanku? Ada yang bilang kau berada sejauh 200 km dariku. Tapi siapa yang menghitung? Ini bukan persoalan malam dan siang. Ini soal kau yang tak kunjung datang membangunkanku. Aku punya banyak anak hampir 238 juta jumlahnya. Mata mereka pun masih terpejam, tertidur lelap. Kemana saja kau? Aku takut ketika anakku terbangun sakit kepala menimpa mereka. Mereka sudah lama tertidur. Menunggumu.

Aku takut jika kau tak kunjung datang anak-anakku akan bermimpi buruk. Mimpi tentang temanku yang asalnya lebih dekat denganmu. Teman yang mengaku-ngaku sebagai saudara namun menculik anak-anakku untuk dipekerjakan melawan musuhnya, dipekerjakan untuk memenuhi kebutuhan biologis anak-anak mereka. Walaupun kejadiannya sudah lama, lebih dari 63 tahun yang lalu, aku tidak bisa melupakannya.

Ketika aku terbangun, aku bahagia. Tapi mengapa kau hanya membangunkanku? Bagaimana dengan anak-anakku? Kau pun menghilang entah kemana. Sudah 63 tahun yang lalu kau menghilang. Lama sekali. Aku takut ketika mereka terbangun nanti kalimat yang pertama kali muncul “apakah Jepang sudah pergi?”.

63 tahun yang lalu anak-anaknya (nya= ibu pertiwi= Indonesia) telah membuat perjanjian dengan takdir untuk menjadi bangsa yang merdeka, terlepas dari segala bentuk penjajahan. Namun perjanjian tersebut nampaknya diingkari (kayaknya emang cuma merpati yang tak pernah ingkar janji). Pernyataan saya mungkin sangat terbuka untuk diperdebatkan, didiskusikan, atau hanya dipikirkan saja. Dulu penjajah Indonesia tak hanya satu negara saja. Namun saya hanya ingin membawa anda kepada apa yang saya rasakan saat ini.

Lima hari yang lalu saya diwawancarai oleh mahasiswi dari Osaka, Jepang. Pertanyaan-pertanyaan pun kemudian dilontarkannya kepada saya. Kemudian dia bertanya pendapat saya tentang Jepang. Entah ingin terlihat jujur atau pintar, saya pun menjawab dengan fakta-fakta yang ada, tanpa harus memperhalus makna. Saya bilang bahwa Jepang adalah negara penjajah, perampas, pemerkosa, pendusta, dan lain sebagainya. Dan itu tentunya fakta-fakta antara tahun 1942-1945. Saya pun heran dengannya karena reaksi yang dia pancarkan pun biasa-biasa saja. Tidak tersinggung dengan jawaban saya ataupun meminta maaf atas perbuatan leluhurnya. Yah maklumin saja karena mereka tidak belajar sejarah tentang agresivitas negaranya selama PD II. Kemudian saya berkata bahwa bila dibandingkan dengan sekarang, malah negara Indonesia dan Jepang saling bahu membahu dalam bidang perekonomian dan pendidikan (sudah 50 tahun lamanya terjalin).

Lalu ia bertanya tentang budaya Jepang. Pertanyaan yang sulit sebenarnya karena saya tidak terlalu mengikuti film-film animasi, manga, dan sebagainya. Saya bilang aja dulu waktu kelas sebelas saya pernah belajar bahasa Jepang secara privat dengan seorang profesor dari Tokyo University of Foreign Studies. Tidak sampai satu semester saya pun mengurungkan niat untuk menguasai bahasa Jepang karena kanjinya yang membuat saya mual. Ia pun tertawa.

Kemudian saya menekankan kepadanya bahwa walaupun Indonesia telah lepas terjajah dari Jepang (secara fisik), sebenarnya Jepang masih menjajah Indonesia. Saya pun mencontohkan yang negatif-negatifnya saja. Saya bertanya kepadanya tentang hentai dan menjelaskan banyaknya teman-teman saya yang menyukai menonton hentai. Ia pun menjawab bahwa hentai di Jepang hanya konsumsi orang-orang freak yang putus asa. Untuk kali ini saya yang tertawa dan izinkan saya untuk tertawa kembali, hwahahahahaha…. Saya pun bertanya-tanya apa yah yang dipikirkan oleh teman-teman saya yang menyukai hentai???

Kemudian saya mencontohkan salah satu kegiatan perayaan 17an teraneh yang pernah saya temui, di Jogja pula. Dulu waktu saya masih kecil, di sebuah pulau yang bernama Sumatera, peringatan 17an biasanya disemarakkan dengan permainan tradisional dan hiburan yang merakyat. Ada juga pawai dan festival pakaian adat nusantara keliling komplek yang seru banget karena biasanya pesertanya adalah anak-anak. Berbeda dengan di Sumatera, di Yogyakarta (dimana Mba Kuntum bilang Jogja adalah sebuah pulau juga karena dibatasi oleh selokan mataram dan kali-kali lainnya), saya tidak menemukan semarak 17an tersebut, malahan, di Jogja(tronik) bakal diadakan perlombaan costplay tokoh-tokoh anime Jepang yang sengaja diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan. Ya ampun…

Mahasiswi Jepang itu pun hanya bisa berkata, “Oh really?” (dengan aksen english osaka jepang gitu)

Ia pun nampaknya mendapat pencerahan setelah percakapan tersebut. Hohohoho…

→ 2 CommentsCategories: Uncategorized

AIR

August 15, 2008 · 4 Comments

Ia membasahi daging, tulang, dan kulit tubuh. Membersihkan semua kotoran badan. Menyegarkan tenggorokan. Mendinginkan ketika panas. Menghangatkan ketika dingin.

Ia menghuni tubuh manusia. Atau manusia menghuni tubuhnya.

Ia mengendalikan manusia. Atau manusia mengendalikannya.

Jika ia menghuni tubuh manusia, pasti tubuh manusia ”dibangun” atas ruang dan sekat untuk menampung jumlahnya yang banyak.

Ibarat rumah, tiap sekat atau ruang dihuni oleh orang yang berbeda”.

Begitu pula dengannya.

Tiap bagian tubuh dihuni olehnya.

Jika manusia menghuni tubuhnya, pasti manusia akan mati, tenggelam….

Jika ia mengendalikan manusia, pasti manusia akan mati, tenggelam….

Jika manusia mengendalikannya, maka yang muncul adalah ekspresi?

Ekspresi adalah hal yang alami, sebagai bentuk dari luapan perasaan. Karena kealamiannya itu, maka gugurlah suatu keharaman untuk melarang suatu ekspresi.

Ketika perang, konflik, perceraian, putus cinta, dan suasana menyedihkan lainnya terjadi, ia pun muncul dalam bentuk AIR MATA. Manusia bisa menangis meneteskan air mata ketika berhadapan dengan kehidupan… kehidupan yang penuh dengan duka. Apakah menangis merupakan suatu keanehan? Ada yang bilang laki-laki menangis itu aneh. What?

Pernah melihat laki-laki menangis? Pengen tahu orangnya? Tuh sana ngaca. Hanya orang-orang rasis, bodoh, dan tidak beradablah yang mengatakan menangis adalah suatu keanehan buat kaum laki-laki.

Ketika mengidam, ingin mendapatkan sesuatu, tertidur gembira, atau bahkan melihat sosok yang dikagumi, ia bisa muncul dalam bentuk ”ILER”. Mengapa orang yang mengiler itu dianggap mupeng?

Ketika melihat musuh, pesaing, mantan pacar, perasaan jijik, benci terhadap seseorang ia pun muncul dalam bentuk LUDAH. Hawkkkkk……… Lantas mengapa meludah di kelas itu dilarang?

Ketika badan tidak fit, ketika udara dan cuaca sedang tidak bersahabat, ia pun bisa muncul dalam bentuk INGUS, meler seperti es cendol. Mengapa orang yang meler sering dianggap jorok? Gak bakal dinikmati seperti cendol juga kok…

Ketika ingin buang hajat besar dan hajat kecil, ia kembali muncul melalui saluran yang besar dan kecil juga. Nah, kalo BAB itu alami, mengapa ke toilet mesti bayar?

Ketika sedang horny, ia pun bisa keluar dalam bentuk yang lain. Tidak melukai dan merugikan orang lain kok, tapi mengapa ??? oh… nani dilarang ???

→ 4 CommentsCategories: Uncategorized

Kuliah Semester Kemaren

August 15, 2008 · 4 Comments

Sedikit merefresh kejadian-kejadian aneh, lucu, bahkan konyol di kelas selama semester genap kemarin…

Introduction to Peace Studies:

Pas mba Dikei bilang, ”Selamatkan Balon Anda!” semua anak yang dah megang balon ma tusuk gigi langsung berhamburan kayak orang kesetanan, berusaha mengambil atau bahkan memecahkan balon yang dipegang ama orang lain. Tar…. Tar… Tar… Balon-balon pun berguguran (untung Akbar bolos pas pertemuan ini). Beberapa menit kemudian mba Dikei memberikan tanda bahwa waktu games dah usai dan semua anak dikumpulin menjadi kelompok yang masih megang balon ama yang balonnya dah pecah. Terus semua ditanyain ama mba Dikei, ”Siapa yang nyuruh mecahin balon?”, ”Balon siapa yang pecah duluan?” Terus yang jawab Fafa Jilbab, ”Icix yang mecahin duluan, mba.”

Tawa pun membahana di sekitar taman Fisipol….

Yang lucunya lagi Icix ngerasa punya alibi gak mecahin balon duluan, padahal…

Semua ngelihat satu-satunya orang yang menikmati permainan ialah Icix, hwahahahahaha…. Icix, kami melihat kamu semangat banget berlarian ke sana ke mari ngejarin balon lain tuk dipecahin… hehehe… peace Cix!

Globalisasi:

Waktu itu Daniel jelasin materi tentang Globalization and National Cultural. Pemaparan tentang perspektif globalisasi pun dijelasin satu persatu. Ada yang hiperglobalis, skeptis, dan transformasionalis. Semua anak pun ditanyain posisinya masing-masing. Setelah itu kami dikelompokkan lagi menjadi beberapa grup yang membahas tentang posisi Indonesia dalam globalisasi. Kemudian, setelah semua anak memberikan tanggapan sok tahunya, Daniel pun memberi kesimpulan dan menyemangati peserta kelas dengan, “We can make it happen!”. Yang lucunya, Daniel itu pake lompat dan membuka lebar-lebar kedua tangannya ke atas sambil bilang we can make it happen tiga kali.

We can make it happen!

We can make it happen!

We can make it happen!

Gyahahaha….

Politik Internasional (PI):

Selain kegaringan mba Ririn selama mengajar di kelas, PI pun menjadi kelas yang sangat aneh karena diisi oleh orang-orang yang berwatak:

Penyu…. Dah tau kelas masuk jam 7.30, eh masih ada yang berani masuk kelas walaupun dah telat 1 jam… mana kondisi kelas kayak aquarium lagi, menerawang dari luar.

Wartawan…pokoknya nanyaaaaaaaaa terus kalo di kelas. Padahal pertanyaannya gak penting-penting amat.

Humas… pokoknya jawaaaaaaab terus kalo mba Ririn bertanya. Yah, Nice try buddy!

Panda… liat aja tuh di barisan belakang banyak brigade yang kelelahan setelah bertempur melawan penjajah, semuanya pada tidur.

Juri Idol… nah ini yang ngeselin. Kalo musim presentasi dah masuk ada aja orang yang sok sibuk bertanya layaknya dia yang memeriksa paper. Prek…..

Regionalisme Uni Eropa:

Waktu itu Fariz sedang presentasi paper tentang peluang Turki ama Macedonia untuk masuk UE. Mba Nisa yang gantiin Bu Titi pun mengatur tempat duduk berbentuk lingkaran biar yang lain bisa menyimak presentasi dengan jelas. Fariz pun duduk di tengah. Walaupun posisi sudah dibuat melingkar ternyata kami sangat sulit mendengar suara Fariz saat presentasi (karena gak pake mic). Aku, Andrew, dan Icix yang sangat atentif di kelas ini, hohoho…berinisiatif untuk mendekatkan posisi kami lebih dekat ke sumber suara. Kursi pun kami majukan. Eh ternyata suara Fariz masih tidak terdengar. Akhirnya kami bertiga menengadahkan kepala kami lebih monyong ke depan. Mungkin aksi atentif kami diperhatikan oleh mba Nisa dan akhirnya ketika Fariz menawarkan sesi pertanyaan, mba Nisa menyela, “Yak, Dedek, Andrew, ama Icix wajib nanya yah sesi ini!“. Gubrak…. kelas pun semakin riuh dengan tawa. Waduh Mba, atentif bukan berarti wajib memberikan pertanyaan loh mba!

Gerakan Politik Timur Tengah:

Hahahahaha… kalo kejadian ini nih yang keren abis, bisa bikin bu Titi tertawa terbahak-bahak. Mas Guntur, angkatan 2005 yang jarang masuk, maju presentasi jelasin tentang RII. Waktu itu gak sedang musim hujan atau salju, tapi mas Guntur pake baju lengkap mulai dari jaket, sweater, ama baju tebal. Mungkin karena gerah juga akhirnya mas Guntur melepas jaketnya (ngelepasinnya pas ketika lagi presentasi di depan). Kemudian ia melepas juga sweaternya…. eh, karena semangat kali yah, jari-jarinya juga memegang dan menarik kaosnya, dan…. viola…. ia melepas semua pakaian atas yang melekat!

Semua tertawa terbahak-terbahak! Hwahahaha….

Hotspot Europe:

Seperti biasa Daniel menjelaskan materi dengan jumlah slide yang sangat banyak. Sampai jam 4.30 pun Daniel masih belum selesai-selesai menghabiskan slide presentasi. Waktu pun sudah bertambah 15 menit. ”Any questions, please?”, katanya. Tak ada satu orang pun yang bertanya. Kami berharap ia segera menuntaskan materinya dan kami semua bisa pulang karena hari sudah gelap. Ia pun kembali bertanya, ”Is there any question?”. Lagi-lagi kami membalas dengan diam. Dan lagi-lagi dia bertanya dengan pertanyaan yang sama. Suasana kelas pun sunyi, mencekam, dan aneh. Kami ingin pulang, Daniel ingin pertanyaan. Daniel pun tampaknya ingin membubarkan kelas kalau ada pertanyaan yang dilontarkan. Akhirnya Mas Sururi pun mengacung memberi pertanyaan…dan setelahnya kami bisa pulang, hehehehe….

Pariwisata dan Hubungan Internasional:

Banyak yang bilang ini kelas sampah. Ternyata beneran kelas sampah. Kuliah normalnya 2 jam. Lah ini, baru 15 menit masuk kelas, eh kelasnya dah bubar… Dosennya pun langsung menghilang entah kemana. Yang lebih lucu lagi kalo ada yang telat. Dah capek-capek naek lantai tiga, eh pas masuk kelas udah gak ada orang lagi, mending bolos aja sekalian.

Konflik: Analisis dan Transformasi:

Pas ujian akhir, kami semua kaget dengan soal yang diberikan mba Dikei. Sangat berat. Ada soal wajib lagi. Di tengah semua orang berfikir keras untuk menjawab pertanyaan. Eh Kevin ma Andre malah bikin ribut. Setoleh-tolehan gak jelas gitu. Mending kalo nyontek. Lah ini, malah setoleh-tolehan pake senyum-senyum gay gitu, ampe Kevin ditegur ama pengawas…

Semoga semester ganjil ini, lebih banyak kegilaan-kegilaan lainnya… berharap IP sempurna lagi semester depan, berharap bisa sekelas ama si dia (lagi), hohoho….

→ 4 CommentsCategories: Campus

Kita Berteman Soedah Lama

August 5, 2008 · Leave a Comment

Let’s be honest with ourselves

I think we always knew

this wasn’t gonna work out

 

I care about you

very much

 

in a way I do love you

 

We haven’t stopped talking

since the day we met

 

I hear what you’re saying

But you’ve gotta hear me

 

I don’t know

what’s gonna happen

 

Maybe

Eventually

 

Who knows?

Nobody knows

 

All I know is that

I need space

 

→ Leave a CommentCategories: Relationship